Now I’m Trying to move my posts from my Tumblr blog here, and there’re quite a lot …
Sorting & cleaning up mode on !
Now I’m Trying to move my posts from my Tumblr blog here, and there’re quite a lot …
Sorting & cleaning up mode on !

“
On Christmas Eve, 2029, the unidentified “Apocalypse Virus” spreads and plunges Japan into a state of emergency in a chaos known as the “Lost Christmas” incident. An international organization known as the GHQ intervenes with martial law and restores order to Japan at the cost of its independence.
Ten years later in 2039, Shu Ouma, a 17-year-old high school student who keeps to himself in school, meets Inori Yuzuriha, the lead singer for Egoist, while visiting one of his favorite places on his way home from school. Shu is a big fan of Inori, a singer who has taken the Internet world by storm. However, he also discovers the other side of her, which is that she is a member of “Undertakers”, a resistance group that aims to liberate Japan from the GHQ. Shu starts taking part in the actions of “Undertaker” and the “king’s mark” appears on his right hand after the Void Genome in his pocket was shot by a GHQ Endlave. This “mark” bestows on him the power to reach inside another person’s body and extract and materialize a weapon from it.
“

- Love the idea of the main weapon of this Anime. A weapon that utilize the heart of people which come with different shape for every person –
Une petite valse d’amoureux,
Rejouez-la-moi encore une fois—
Je voudrais l’écouter encore un peu
Comme pour la première fois.
Et si vous aimez cette melodie,
Allons danser! ou bien chantez!
Vous retrouverez toute la magie
Des petits bals de l’été.
Et bientôt musiciens, balladins et poètes
Vous diront, oh, combien ils aiment votre
chanson.
L’accordéon bien malin dans un brin de folie
Rejouera cristalin sans arrêt cette melodie.
Et quand nous ne serons rien que nous deux,
Que toi et moi, embrasse-moi.
Nous serons toujours aussi amoureux,
Ecoute, c’est merveilleux.
Cette roman c’est tout comme un avoeu.
Rappele-toi que bien des fois
Tu le voudras et tu rechanteras—
La valse des amoureux!
Les musiciens n’y sont pour rien,
Mais ils me font frissonner chaque fois
Qu’ils jouent cette valse en toute grâce,
Je pourrais l’écouter jusqu’à demain.
“This European song starting with accordion is this album’s original song. Miss Noguchi sings the solo, sung by Risa Ohki. (2 accordions, 2 guitars, and a bass)” —Liner notes to “Valse des Amoureux” on Final Fantasy: Love Will Grow album
_________________________________________________________________
English Translation :
A little lover’s waltz,
Play it for me once more.
I want to listen to it a little more
As if for the first time.
And if you like this melody,
Dance, or sing!
You’ll rediscover all the magic
Of summer’s little dances.
And soon musicians, balladeers, and poets
Will tell you, oh, how much they love your song.
The accordion, mischievous in a bit of madness,
Will replay this melody without end, clear as
crystal.
And when we are only we two
Just you and I, hold me tight
We will always be this much in love,
Listen, it’s marvelous
This romance is just like a confession,
Remember how often
You’ll want it, and you’ll sing it again—
The Lover’s Waltz!
The musicians are here for nothing,
But they make me shiver each time
They play this waltz so gracefully.
I could listen to it until tomorrow.
Some people may and some other may not realize, that along the way we gained both friend and foe. Of course many wasn’t intended, we accidentally stumble upon each other. Having whether the same purpose or the other way around, we make a bond.
This encounter, the start of a new bond is connected by a thing called feeling. At first our feeling and perception is based on measurement. A measurement as to categorized those who stumble upon us. Then upon the result, we act as we find befitting.
First impression is of course very important, yet it is also not reliable. Human’s heart knows no bound. It is so deep that a mere graze on the outside will hardly reveal the true core. Making prejudice a kind of an unwise act.
Of course every people’s heart have a different shape. You can find one so sickening at the first gaze, yet as time goes one you will see that it hid a beauty unparalleled by any others. Yet the other way around is also possible. The first you see it you will find yourself be startled by a dazzling light. Brilliant, gorgeous and fascinating, but somehow as you try to come closer bit by bit, everything is changing. The light goes dimmer and those beautiful silhouette turns out to be less and less shimmering. Revealing an sad thing.
What I’m trying to say here, is that behind every effect there will be cause. There is always a reason behind everybody’s act. As to not creating a mistake, we should shed our prejudice and dive into the veiling mist around the core. Because only after you succeeded in passing that misty curtain, will you find the truth … no matter how beautiful or ugly it is, that is the one you could believe.
-Jirga-

I don’t actually know, whether those are chicken or not (I’m sure the green thingie is Broccoli though).
This picture is omitted by a tumblr blog that I follow.
This looks delicious, no ? especially right now, on this cold morning … Imagine eating it with a bowl of hot rice, YUMMY !!
uuughhh … Hara ga hetta …

The Kübler-Ross model, commonly known as The Five Stages of Grief, was a theory first introduced by Elisabeth Kübler-Ross in her 1969 book, On Death and Dying.
The stages, popularly known by the acronym DABDA, include:
“Anyone living will at least once, experience this pattern. And after overcoming it, we’ll come out a lot stronger”.
-Jirga-

Telur puyuh merupakan salah satu sumber protein yang umum dijumpai di Indonesia. Telur ini dihasilkan oleh burung Puyuh atau yang lebih dikenal dengan nama Quail. Telur puyuh memiliki tekstur kulit telur yang unik. Berbeda dengan telur ayam yang cenderung berwarna coklat krem yang merata di seluruh permukaan telur, telur puyuh memiliki corak tekstur yang dihiasi oleh totol-totol hitam yang berbentuk sembarang. Selain itu jika dibandingkan dengan telur ayam, telur puyuh memiliki ukuran yang lebih kecil (hampir kurang dari setengah telur ayam).
Berikut merupakan artikel dari koran Kompas (3 Juni 2011) mengenai telur puyuh :
” Beruntunglah kita penduduk Indonesia. Telur puyuh bisa didapatkan dengan mudah dengan harga relatif murah. Di kawasan Eropa Barat dan Amerika Utara, telur puyuh dianggap sebagai makanan mewah. Padahal, telur mungil itu memiliki manfaat segudang banyaknya.
Dengan berat 10 gram hingga 12 gram, satu butir telur puyuh berisi banyak unsur yang dibutuhkan agar tubuh menjadi sehat. Nilai gizi telur puyuh tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam, yang memiliki berat 50 hingga 70 gram per butir.
Telur puyuh mengandung 13 persen protein, telur ayam hanya 11 persen. Selain itu, telur puyuh mengandung 140 mu-g vitamin B1, bandingkan dengan 50 mu-g yang ada di telur ayam. Kandungan vitamin A dan B2 telur puyuh dua kali telur ayam.
Telur puyuh memiliki zat besi dan potasium lima kali lebih banyak daripada telur ayam. Karena kandungan tersebut, telur puyuh masuk dalam kategori dietary food.
Bagusnya telur puyuh tidak memiliki kolesterol jahat (LDL) dan sangat kaya dengan kolesterol baik (HDL). Tak seperti telur ayam, telur puyuh tidak menyebabkan alergi. Malah, telur puyuh bisa membantu mengatasi gejala alergi. Mereka memiliki yang namanya protein ovomucoid, yang dipakai untuk produksi obat antialergi.
Telur puyuh dapat dimakan mentah. Tentunya, setelah telur tersebut dicuci dalam air panas. Tidak perlu khawatir tentang adanya Salmonella karena suhu tubuh burung puyuh lebih tinggi daripada ayam sehingga Salmonella tidak dapat hidup.
Dalam artikel dari situs Gout Pain, disebutkan bahwa penderita asam urat sama sekali tidak dilarang makan telur, termasuk telur puyuh. Itu karena telur mengandung unsur purin yang rendah. Meski demikian, jumlah konsumsinya harus dibatasi. Untuk telur ayam, hanya tiga butir per pekan, disesuaikan pula untuk konsumsi telur puyuh. Yang berbahaya untuk penderita asam urat adalah burung puyuh itu sendiri.
Merupakan kebiasaan bagus untuk mengonsumsi 3-5 butir telur puyuh setiap pagi. Itu gunanya untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan memperbaiki proses metabolisme. Setelah 3-4 bulan rutin makan telur puyuh, tubuh akan terasa selalu berenergi.”

Zottman Curls merupakan salah satu gerakan yang belakangan ini cukup saya sukai ketika sengan berlatih menggunakan dumbbell.
Gerakan untuk Zottman Curls tidaklah sulit, berikut merupakan langkah-langkahnya :
1. Genggam dumbbell di kedua tangan dengan posisi telapak tangan menghadap kedepan (seperti pada gambar)
2. Angkat dumbbell hingga mencapai dada.
3. Putar pergelangan tangan sehingga telapak tangan yang sekarang menghadap kebelakang kembali menghadap kedepan.
4. Turunkan dumbbell secara perlahan hingga kembali ke posisi semula.
Mudah dan efektif untuk melatih biceps dan lengan.
Terkadang kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang kesemuanya memiliki keunggulannya masing-masing dan kita hanya dapat memilih satu diantaranya. Kejadian ini baru saja saya alami, dan hal ini berhubungan dengan tugas akhir saya.
Pada awalnya seorang dosen menawarkan saya dan teman-teman saya untuk TA yang berhubungan dengan oil shale dan maceral. Ketika mendengarnya kontan saya tertarik. Hal ini karena saya mengambil kuliah “Geologi Migas” yang sedikit banyak membicarakan mengenai oil shale dan maceral. Kemudian saya dan seorang teman saya pun datang menghadap dosen dan bertanya-tanya mengenai topik TA ini, tetapi berhubung TA ini berhubungan dengan proyek dan proyeknya belum mendapat dana maka kami diminta untuk menunggu hingga akhir tahun (2011).
Selama menunggu saya pun bimbang, seorang dosen lain menawarkan juga sebuah topik TA yang menarik. Saya katakan menarik disini karena TA ini berkerja sama dengan salah satu universitas di Kanada dan selain itu diberikan juga scholarship untuk biaya keluar serta allowance. Bagaimana tidak tertarik ? Begitu mendengar penawaran yang diberikan saya pun langsung tergoda untuk menerima topik ini, tetapi begitu bertemu dengan dosen yang bersangkutan, ternyata topik ini belum tentu tembus juga, karena sifatnya juga berupa proyek dan masih diteliti dahulu. Karena saya lebih condong kepada topik yang kedua maka saya menunggu untuk kabar topik yang ini.
Beberapa bulan kemudian
Saat itu sudah bulan januari, namun topik pertama masih belum ada kabar, begitu juga dengan topik kedua. Karena saya penasaran maka saya coba hubungi dosen topik kedua dan tetap disuruh menunggu. Tiba-tiba di pertengahan Januari 2012 dosen kedua memberitahu bahwa akan ada penjelasan (seminar) mengenai topik kedua langsung oleh perwakilan dari universitas di Kanada tersebut. Saya pun langsung berasumsi kalau topik kedua ini telah tembus dan akan segera dijalankan, saya pun datang ke seminar tersebut dan mencoba memperhatikan, yah walaupun tidak memahami semuanya, sedikit banyak saya sudah mengetahui garis besarnya.
Tidak lama setelah seminar itu, datang kabar bahwa topik TA pertama sudah tembus juga dananya sehingga proyeknya bisa berjalan dan TA bisa dimulai. Karena saya sudah bilang sebelumnya ke dosen topik pertama kalau saya sepertinya akan mengambil TA topik kedua maka dia tidak menghubungi saya melainkan menyebarkan berita bahwa dia mencari satu mahasiswa yang ingin mengambil TA dengan topik tersebut (Teman saya yang satu lagi tetap bertahan dengan topik ini).
Saya pun sempat bimbang ingin kembali mengambil topik pertama. Mengapa ? Hal ini dikarenakan selain adanya huru-hara yang terjadi didaerah dimana topik kedua akan dilaksanakan, tetapi juga ternyata topik kedua belum pasti akan tembus. Asumsi saya salah. Hal ini membuat saya agak pusing. Karena yang tadinya saya kira sudah pasti menjadi tidak jelas ujungnya.
Karena saya masih bimbang, saya sempat berpikiran untuk mengambil topik pertama saja, toh topik ini sudah pasti dan tidak perlu pergi kelapangan. Selain saya tidak perlu pusing lagi, saya juga bisa mengerjakan banyak hal yang ingin saya lakukan sebelum lulus. Tetapi satu hal terus membuat saya bimbang, yaitu mengenai allowance dan scholarship yang bisa saya dapatkan jika saya mengambil topik kedua. Yah, akhirnya jadi perdebatan batin tanpa ujung, maka saya putuskan, sudahlah saya ambil topik pertama saja.
Setelah memutuskan untuk mengambil topik pertama, saya berpikiran untuk bertemu dengan sang dosen pada hari dimana perwalian dengan dosen wali dilaksanakan (Kebetulan dosen wali saya merupakan dosen yang memberikan topik kedua. Karena itu saya pikir sehabis saya bertemu dengan dosen topik pertama maka sekalian perwalian saya kan bilang kalau saya batal mengambil topik kedua).
Sebelum bertemu dengan dosen saya sempat bertemu dengan teman saya, dia memberitahu saya bahwa topik kedua ini sudah ada yang ingin mengambil. Kontan saya pun mulai was was, begitu tahu siapa yang ingin mengambilnya, saya pun langsung berbicara dengannya. Disaat berbincang itulah terungkap kalau dia bukannya hanya ingin tetapi sudah dihubungi oleh dosen topik pertama. Saat itu saya benar-benar lemas.
Yah, saya tidak ingin menyerah, karena itu saya pun tetap mencoba untuk bertemu dengan sang dosen topik pertama. Ketika bertemu dia menyambut dengan baik niatan saya, walaupun proyek utamanya telah didaftarkan atas nama dua teman saya yang lain. Tetapi karena ketidakjelasan dari dosen kedua maka saya putuskan saja untuk mengambil topik kedua. Dosen topik pertama waktu itu berkata bahwa saya bisa mengambil topik yang sama dengan salah satu teman saya tersebut (Topik dari dosen pertama ini sebenarnya ada dua, oilshale dan maceral). Yah dengan segala keterbatasan saya mencoba untuk menerimanya. Tapi jujur saat itu saya masih bimbang untuk memilih karena sama sekali belum ada kejelasan dari dosen topik kedua. Karena itu pada akhir pembicaraan dengan dosen pertama, saya pun berkata, nanti coba saya diskusikan lagi dengan dosen topik keduanya.
Kemudian saya berdiskusi dengan dosen topik kedua dan berujung tanpa hasil, masih belum ada kepastian juga. Beberapa hari selanjutnya, dosen topik pertama mengundang kami bertiga untuk mendengarkan presentasi mengenai topiknya. Disana jelas diterangkan bahwa dua teman saya akan melaksanakan TA dengan topiknya masing-masing. Tetapi ketika saya bertanya untuk porsi saya, saya ditawarkan untuk mengambil topik yang lain, yang mana hanya merupakan pengolahan data tanpa praktik dan ke lapangan sekali pun. Tentu saja saya langsung menolak, saya merasa ilmu yang saya dapat jika mengambil topik itu akan sangat sedikit sekali. Saya pun bertanya kepada sang dosen, apakah mungkin saya mengambil topik yang sama dengan salah satu teman saya seperti yang telah dijelaskan olehnya dulu. Jawaban yang saya terima ternyata jauh dari harapan saya. Ya, saya boleh mengambil salah satu dari topik dua teman saya tersebut, hanya saja sampelnya belum ada dan harus menunggu hingga sampel itu datang (yang entah kapan datangnya), selain itu sampel itu milik salah satu dosen yang sentimen terhadap saya, maka saya semakin yakin untuk mundur saja dari topik dosen pertama dan berharap agar topik dari dosen kedua benar-benar tembus.
Dua minggu berselang saya kebetulan sedang lewat di depan ruang dosen topik kedua, karena rasa penasaran saya pun mengetuk pintu dan minta ijin untuk masuk dan berbicara. Dia pun langsung mengijinkan masuk dan tahu akan bicara apa. Karena dia tampak agak ceria maka asumsi saya pun langsung bekerja. Yap, topiknya jadi nih !
Beberapa menit berselang dan semuanya pupus. Sang dosen berkata bahwa dari interpretasi jawaban mengenai kelangsungan proyek yang dia dapat dari universitas di kanada tersebut mengindikasikan bahwa proyek ini tidak akan berjalan. Sontak saya lemas, sudah kehilangan topik yang saya suka (topik pertama), topik yang menguntungkan (topik kedua) pun hilang.
Sang dosen pun kemudian menawarkan alternatif topik lain, hanya saja topik ini selain saya kurang menyukai kontennya tetapi juga tidak memberikan keuntungan (uang) sedikit pun. Kesal, marah, sedih pun campur aduk. sekarang saya harus memutuskan apakah ingin mengambil topik tersebut atau mencari topik dari dosen lain. Jawaban akhir yang saya berikan kepada dosen ini pun hanya kata-kata berupa “Akan saya pikirkan dahulu pak”.
Mungkin semua ini salah saya karena ketamakkan saya yang ingin mengambil kesempatan yang terbaik tanpa memberikan keputusan yang tegas. Saya bimbang dan akhirnya kehilangan semua. Ini merupakan pelajaran keras bagi saya, bahwa pilihan itu selalu ada. Dalam membuat pilihan kita harus tegas dan harus dapat melihat kedepan mengenai prospek dan resiko yang dapat kita tanggung.
Biarlah kejadian hari ini terus membekas bagai luka yang menganga, agar saya selalu ingat akan kesalahan saya. Lagi pula hilangnya dua kesempatan ini bukan berarti saya kehilangan semuanya. Seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu atau ada seribu jalan menuju roma. Tidak perlu sedih dan terlarut-larut dalam kejadian ini.
Ayo semangat dan cari jalan baru !